Hari Minggu
yang begitu panas di bulan Desember, aku perkirakan akan turun hujan malam ini.
Karena kulihat langit di sebelah barat tampak berat oleh awan hitam yang tebal,
dan udara begitu panas ku rasa. Angin juga bertiup sesekali menerbangkan
awan-awan itu menuju ke arah timur dan terus saja berderak-derak menutupi
gambaran biru langit.
Demi
mengikuti rasa panas tubuhku, aku putuskan untuk naik ke beranda atas sekedar
melepaskan penat. Aku duduk di sebuah kursi rotan kesayanganku yang langsung
menghadap ke arah bukit yang hijau. Lebih nyaman jika aku tidak memakai baju,
maka ku lepaskan kaos putihku dan aku sisakan celana jeans membalut tubuhku.
Aku lempar begitu saja kaos putihku di kursi rotan kecil di sudut pagar
pembatas beranda, di bawah bonsai pohon kamboja Jepang. Hem….sedikit nyaman.
Mulai kurasakan angin meniup pori-pori tubuhku yang tertutup keringat itu.
Perlahan angin-angin itu menerbangkannya dan menggantikannya dengan kesejukkan.
Di depanku,
sebuah meja dari batang kayu yang terukir dengan manis, sebuah hadiah dari
Frans, seorang temanku. Frans adalah pengrajin kayu dari Jepara. Hasil
kerajinan tangannya sangat luar biasa. Di atas meja itu tersaji di papan saji
segelas jus jeruk segar yang aku bawa dari dapur di lantai bawah tadi dan
sekantong plastik ceriping pisang buatan tangan tetangga Wastuti – asisten
rumah tanggaku, Ari Wastuti nama lengkapnya – yang selalu dibelinya karena
Wastuti tahu aku sangat suka dengan ceriping pisang ini. Benar-benar camilan
yang sehat tanpa bahan pengawet dan bahan pewarna.
Aku senang
sekali berada di berandaku ini. Wastuti yang suka berkebun, menghiasinya dengan
tanaman hias yang kupikir membuat beranda ini menjadi sejuk. Benar-benar tangan
yang trampil. Wastuti selalu tahu dan mengenali kebutuhan tanaman yang
dirawatnya itu, seperti dia mengenali diriku dan kebutuhanku.
Sembari
mengagumi nikmatnya ceriping pisang ini, aku menoleh kembali pada kepenatan
hariku. Hari ini aku cukup dibingungkan oleh tulisan-tulisanku yang tidak juga kutemukan
ending dari kisah cinta yang diminta
penerbit. Mereka ingin membuat sensasi di pasar, bahwa Widya Susena penulis
cerita detektif dapat juga menulis cerita romantis. Tetapi memang menulis kisah
cinta yang romantis itu tidak mudah. Aku sudah lelah sekali memikirkan masa
laluku dan mendramatisir setiap kisahnya tetapi tetap saja tidak menghasilkan
sesuatu yang mengejutkan. Hanya sebuah kisah cinta biasa saja yang endingnya
dapat dengan mudah ditebak oleh pembacanya. Aku juga sudah meminta Wastuti untuk
membacanya dan menebak apa akhir dari ceritaku, dan seperti yang sudah aku
duga, Wastuti dengan tersenyum, tahu endingnya!
Aku
rebahkan tubuhku di atas balai-balai
sambil berpikir tentang apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku tak pernah
menyangka bahwa beberapa tahun yang lalu aku tinggal di desa bersama orangtuaku
dan kini aku telah memiliki sebuah rumah mungil dengan taman yang sejuk dan
segar di bawah sana. Dan sebuah pekerjaan yang menyenangkan telah mengisi dan
menghiasi hari-hariku walau kadang membuatku penat seperti ini.
Di
tengah-tengah lamunanku, Wastuti naik ke atas dan menghampiri seraya berkata,
“Mas Widya,” ucapnya halus. Aku membuka mataku dan menatap wajah khas Jawa itu,
“Saya pamit pulang dulu ya. Habis nanti malam saya mau pergi ke tempat orang
hajatan.” Jelasnya sambil meraih kaos putihku yang tadi aku lempar di bawah
pohon kamboja Jepang itu. Terusnya lagi, “Makan malam sudah saya siapkan, dan
kopi ada di ruang kerjanya Mas Wid. Kemudian tadi ada Bapak Reinhart menelpon,
katanya dari Penerbit, katanya ingin bertemu dengan Mas Widya minggu depan, di
kafe Bamboo jam 9 pagi. Saya sudah mencatat perinciannya di buku schedule-nya
Mas Widya. ”
Aku hanya
mengangguk sambil tersenyum saja menanggapi ucapan Wastuti. Gadis ini
benar-benar anak yang teliti dan cermat. Dia tidak pernah membuat kesalahan
sejak pertama kali bekerja denganku.
Setelah
tersenyum dengan lega, gadis belasan tahun yang tidak lulus sekolah itu
berbalik sambil menarik ujung hem hitamnya yang berlengan pendek dan roknya yang
sepanjang tumit itu menyisakan angin di tubuh bagian kananku. Selanjutya, aku
mendengar lembut kaki kecilnya menapaki tangga-tangga rumah. Beberapa kali
terdengar deritan pintu dibuka dan ditutup. Ah….gadis malang itu tak cukup
mampu melanjutkan sekolahnya, karena keadaan ekonomi. Tetapi atas saranku,
Wastuti mengikuti program paket B yang setara dengan SMP itu. Kasihan juga
melihat perjuangan gadis seusianya yang bekerja demi sesuap nasi. Wastuti
adalah gadis yang hebat, seusianya ia sudah menjadi tulang punggung
keluarganya. Menyekolahkan kedua adiknya yang masih di bangku Sekolah Dasar.
Dia tak pernah mengeluh atas keadaannya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan
Kereta Api, sementara Ibunya sakit-sakitan setelah ayahnya meninggal. Saat aku
seusianya dulu aku tahunya hanya bermain dan bersenang-senang dengan
teman-temanku. Jika minta sesuatu semua harus terpenuhi. Aku adalah raja di
rumahku sendiri, karena aku satu-satunya anak lelaki orangtuaku. Perbandingan
yang sangat mencolok antara aku dan Wastuti.
Aku
mengalihkan lamunanku dari Wastuti dan masa lalunya kepada peristiwa-peristiwa
masa silamku. Aku biarkan angan-anganku merantau ke sana. Aku telusuri
peristiwa demi peristiwa masa lalu yang terkadang membuatku tersenyum, atau
mengerutkan dahi demi mengingat masalah-masalah yang serius, atau kadang marah
dan kesal karena peristiwa yang menjengkelkan. Sebagian masa laluku telah aku
tulis menjadi buku yang laris keras di pasaran. Yah….masa laluku telah
mengantarkan aku sampai di sini. Tetapi kadang aku juga ingin membenahi masa
laluku yang sempat terkoyak karena sikap-sikap dan perilakuku.
Lamunan masa
laluku terpotong oleh suara truk yang berhenti di depan rumahku. Aku bergegas
turun ingin mengetahui apa yang terjadi di bawah sana. Sejenak aku mengintip
truk itu dari jendela ruang depan yang tertutup oleh korden tipis dengan bau
khas cucian Wastuti. Aku lihat seorang gadis turun dari truk itu dan membuka
pintu pagar rumahku. Sepertinya aku mengenali gadis itu, tapi entahlah aku
tidak terlalu yakin. Aku biarkan saja gadis itu mengetuk pintu beberapa kali
sebelum akhirnya aku jawab perlahan. Pintu telah aku buka untuk gadis cantik
itu. Gadis yang berdiri di depanku ini mengernyitkan dahinya dan tiba-tiba
tersenyum, “Widya? Widya Susena ‘kan?!” soraknya. Aku hanya tersenyum sambil
mengingat-ingat siapa yang memiliki sorakan itu. Yah…..dia adalah orang yang
memang pernah aku kenal dan sempat tinggal sejenak di hatiku. Dia adalah Krisna
Dewi, teman SMA-ku yang kekanakan. Tiba-tiba aku merasa geli melihat Krisna.
Gadis kekanakan itu berubah menjadi wanita muda yang cantik. Aku
mentertawakannya seraya bersidekap di depan pintu. Melihat ekspresi wajahku,
Krisna mulai marah-marah, “Kenapa? Apa yang kau tertawakan?!” Jawabku, “Tidak
ada, aku hanya berpikir lucu sekali melihatmu hari ini. Kau masih ingat tidak
dengan dirimu sewaktu kita masih SMA?”
“Tidak ada
yang lucu!” sungutnya seraya menyodorkan secarik kertas padaku. Tanyaku sambil
menarik kertas yang ada di tangannya Krisna, “Kau mencari alamat ini ya?” Jawab
Krisna, “Ya. Aku rencananya nge-kos di situ.” Aku jawab petanyaan Krisna dengan
menunjukkan jariku ke arah bangunan berlantai tiga yang berdiri tepat di sisi
kanan rumahku. Krisna berbalik dan pergi sambil mengucapkan terima kasih. Aku
menatapi punggung Krisna yang meninggalkan pintu rumahku seperti beberapa tahun
yang lalu, panggilku, “Kris,” Krisna berhenti dan memandangku, lanjutku, “Hanya
itu yang kau ucapkan pada sahabat lamamu?” Krisna hanya mencibir lalu pergi.
Aku tutup pintu rumahku dan masih tertawa geli. Krisna tidak jauh berbeda
dengan Krisna yang tinggal di masa lalu, tapi apakah Krisna yang beberapa menit
yang lalu berdiri di muka pintuku masih tetap Krisnaku yang dulu?
Aku kembali
ke kamarku dan meneruskan tulisan-tulisanku. Orang-orang dari penerbit sudah
mengejar-ngejar aku untuk menyelesaikan tulisanku. Tapi sepertinya tulisan ini
takkan selesai bulan ini. Karena aku sudah satu jam duduk di mejaku tapi tak
satupun kata keluar dari benakku. Aku putuskan untuk memandangi kos-kosan putri
yang tepat berada di depan kamarku. Namun itupun tidak menumbuhkan ide apa-apa
padaku. Malahan wajah seorang gadis dengan masker putihnya mengejutkan aku.
“Arrgghhhh……!!!”
seruku. Aku kira dia kuntilanak yang muncul di siang bolong. Gadis itu menahan
tawanya dan berlari masuk ke dalam pintu rumah kosnya, menyisakan aku yang
mengelus-elus dadaku untuk menenangkan diri.
Ah….mungkin sebaiknya aku keluar saja dulu.
Mencari angin segar yang bisa mendinginkan kepalaku, siapa tahu ada tambahan
ide tulisanku.
Aku turun dari
kamar dan langsung menuju garasi. Motor bututku sudah menanti dengan warnanya
yang cerah. Aku buka garasi dan mulai keluar. Baru saja aku keluar pagar
terdengar suara perempuan memanggilku, “Wid....Widya! Tunggu!” Ternyata suara
itu milik Krisna. Kata Krisna padaku sambil berjalan menghampiriku, “Kau mau
pergi, ya?”
“Menurutmu,
kalau aku ada di sini dengan arah motor ke jalan itu kira-kira aku akan pergi
atau pulang?” sahutku. Krisna melotot. Kataku kemudian, “Kau mau kemana?”
“Sebenarnya,
kalau kau tidak ada acara aku mau minta bantuanmu.” Ucapnya dengan polos.
Kataku padanya, “Bantuan apa? Lagian pergiku juga tidak terlalu penting.”
“Tolong
antarkan aku untuk menemui seseorang.” Kata Krisna padaku.
“Seseorang?”
potongku cepat, “Pacarmu? Tunanganmu? Suamimu? Mantan suamimu? Atau hanya
seorang fans? Maksudku….hanya seperti aku..”
“Sudahlah…
aku tak ingin membahas apapun mengenai masa itu. Aku saja tidak tahu siapa yang
akan aku temui. Aku sangat ketakutan saat ini. Tapi aku harus menemui dia saat
ini juga.” Ucap Krisna. Aku melihat kesungguhan di wajahnya yang mendadak pucat
pasi itu. Tanyaku kepada Krisna “Memangnya apa yang terjadi padamu?”
“Aku… aku
akhir-akhir ini sering mendapat surat kaleng. Penuh dengan cerita ngeri dan
ancaman-ancaman. Lalu kali ini dia mengundangku ke suatu tempat dan katanya tak
boleh ada seorangpun yang tahu. Semula aku mengabaikan surat itu, tapi
surat-surat berikutnya penuh dengan ancaman. Aku ingin kau menemani aku tapi
aku tak ingin orang yang mengundangku itu tahu kehadiranmu.”
“Dimana
tempat yang dijanjikannya itu?” tanyaku pada Krisna.
“Di hotel
Puri Sakti di jalan Taman Siswa no.7. Katanya aku ditunggu di kolam renang.”
“Oke, kita
akan ke sana. Tetapi menurutmu pengirimnya laki-laki atau perempuan?” tanyaku
lebih lanjut.
“Aku tidak
tahu. Tulisan itu di ketik rapi, jadi aku tidak tahu itu jenis tulisan yang
ditulis laki-laki atau perempuan.”
“Oh… begitu,
lalu kau sudah pernah lapor polisi atau belum?” tanyaku lagi. Krisna
menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Belum, Tidak! Aku tidak mau sesuatu yang
buruk akan terjadi.”
“Baiklah aku
akan tiba di sana lebih awal. Sekarang aku pergi dulu ya, say.” Ucapku sambil
tertawa menggoda Krisna. Krisna melotot jengkel. Ah… anak itu, mungkin kalau
sedang tidak terdesak seperti ini dia tidak akan meminta bantuanku.
Dalam
perjalanan menuju hotel Puri Sakti aku berpikir bahwa hal inilah yang harus aku
tulis. Tapi aku membutuhkan sesuatu hal yang bisa mengendalikan peristiwa yang
akan terjadi nanti.
Perlahan, aku
mengetuk pintu pada sebuah rumah mungil yang bercat merah bata itu. Sahabatku
Rudy Harsono keluar menyambutku dengan riang dan diikuti malaikat kecilnya,
Putri Harsono yang masih berumur 2 tahun itu. Putri menggelendot manja di kaki
ayahnya, nampak ia malu-malu menyapaku. Rambutnya yang keriting dan berwarna
merah jagung itu semakin kusut saja karena gerakan tangannya yang berkali-kali
mengusap anak rambutnya yang lembut itu. Aku angkat Putri dari kaki ayahnya dan
aku dukung dia masuk ke rumah mungil yang tertata rapi. Cerewetnya Putri bercerita
dalam dukungannku, menceritakan kegiatannya pagi ini bersama dengan ibunya.
Tidak lupa Putri juga menceritakan kalau kemarin dia baru saja membeli balon di
pasar malam. Bibirnya yang mungil itu kemudian menyenandungkan lagu Balonku ada
lima yang akhirnya mendenda aku untuk menyanyikannya hingga mulutku berbusa
karena dia tidak mau berhenti mendengarkan aku menyanyi.
Rudy Harsono
adalah seorang polisi, ia seorang kenalanku yang selalu memberiku bantuan dalam
menulis cerita-cerita kriminalku. Bahkan aku sering ikut Rudy memecahkan
kasus-kasus yang ada di lingkup kerjanya.
Seperti
biasa, aku disambut di ruang duduk dengan satu set kursi sudut berwarna hijau
tua dengan jendela yang juga bertirai hijau yang membuat ruangan ini menjadi
tampak segar. Lukisan-lukisan pemandangan ada di dinding-dinding ruangan sempit
dan sebuah vas bunga yang terisi bunga potong ada di atas meja. Aku duduk di
kursi dekat jendela bersama Putri yang masih berada di lenganku dan masih terus
saja bercerita dan bernyanyi tiada henti. Dari arah dalam istri Rudy yang
cantik itu keluar dan menyapaku, lalu meraih Putri dari dekapanku. Walaupun
Putri agak sedikit meronta, tetapi tetap saja diambilnya dengan berbagai macam
bujukan. Indah tahu kedatanganku ini pasti ada hubungannya dengan kasus
kriminal, maka diajaknya Putri keluar. Aku mulai membicarakan maksud
kedatanganku petang ini setelah Putri dan Indah keluar. Rudy tak banyak bicara
mengenai hal ini, dia hanya menyetujui saja apa yang aku katakan padanya.
Setelah menyusun rencana, Rudy masuk dan berpamitan dengan istri dan anaknya.
Putri merengek ingin ikut, tapi Indah membujuknya agar tetap tinggal di rumah
seperti biasa.
Aku telah
berangkat ke hotel Puri Sakti terlebih dahulu dan langsung duduk di lobi.
Setengah jam telah ku habiskan di lobi yang temaram dengan secangkir kopi dan
surat kabar di tanganku. Sejenak aku alihkan pandangku dari surat kabar ini ke
arah kolam renang, kolam itu masih sepi. Ada beberapa turis asing yang
bersantai di tepi kolam renang, ada-ada saja, malam mulai menjelang tapi masih
saja berjemur. Lalu aku kembali kepada surat kabar di tanganku. Dari ujung
mataku, aku melihat Krisna masuk ke hotel. Ia melepas jaket hitamnya dan sejenak melihat ke arahku. Setelah yakin melihat
aku ada di lobi ini, Krisna berjalan menuju ke kolam renang. Krisna berjalan ke
arah turis asing itu, apakah turis itu yang ingin menemuinya? Ternyata bukan,
Krisna menuju ke tepi kolam yang tepat berhadapan denganku. Seorang waitter
mendekati Krisna, terlihat Krisna memesan sesuatu. Sesaat kemudian pesanan
Krisna sudah datang.
Beberapa kali
kulihat Krisna menarik-narik ujung lengan kaus ketatnya yang panjang. Sesekali
ia menarik nafas dalam-dalam seperti mencoba meredakan deburan jantungnya yang
menyesakkan dadanya. Dan sekarang ia membungkuk merapikan ujung celana jeans
hitamnya yang agak kusut. Lalu ia meminum jus yang sudah dipesannya. Krisna
berdiri dan berjalan mondar-mandir, lalu duduk kembali. Ia singkap lengannya
dan melihat jam di tangannya.
